Nama
Alamat

Kode Pos
Email
Telepon
Password
Ulangi Password
Kode
Pelanggan yang terhormat, kami mohon waktunya tidak lebih dari dua menit untuk mengisi formulir keanggotaan. Setelah itu silakan menikmati berbagai kemudahan dan keuntungan seperti diskon, voucher dan point. Data yang Anda masukkan hanya digunakan untuk keperluan ketika anda berbelanja di ROLSHOP.
Saya setuju untuk menerima email newsletter dan/atau informasi promosi lainnya

Pelanggan yang terhormat, sehubungan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1437H diberitahukan bahwa seluruh transaksi pembelian di ROLshop terhitung tanggal 1 Juli-11 Juli 2016 akan diproses pada tanggal 12 Juli 2016. Untuk pertanyaan dan informasi lebih lanjut hubungi kami melalui email rolshop@rol.republika.co.id

Home » katalog » buku » Clearance Package » Paket Clearance 3
Paket Clearance 3
Oleh: republika
Sinopsis

Air Mata Tjitanduy

Sistem tanam paksa sudah ditinggalkan sejak 1860 karena menyebabkan kelaparan petani di tanah Jawa. Kebijakan itu berganti dengan sistem pertanian liberal yang memunculkan pengusaha-pengusaha swasta Belanda pada awal-awal abad 20. Namun dalam praktiknya para pengusaha perkebunan bersama dengan para elite bangsawan daerah, raja-raja kecil, tetap mempertahankan cara tanam paksa. 


Birokrasi penjajah dan elite bangsawan lokal bersekongkol dengan pengusaha partikelir tetap mengawetkan tanam paksa, yang menguntungkan mereka. Petani tetap diwajibkan menanam tanaman-tanaman wajib yang laku di pasaran ekspor, yang sudah tentu menguntungkan pengusaha dan elite bangsawan. Bahkan mereka tak segan-segan merebut tanah petani dengan berbagai cara. Berlatar di wilayah perbatasan Priangan dan Cilacap. 

kisah ini menceritakan perjuangan petani mempertahankan mata pencahariannya. Langkah mereka membuka hutan (trukah) untuk dijadikan sawah baru harus dibayar dengan darah dan airmata. Ki Madkusen dan anak-anaknya tak cuma menghadapi para perampas tanah, tapi juga perjuangan untuk menghapus jejak sebagai orang Kalang.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Garis Merah Di Rijswijk
 
Banyak intrik terjadi menjelang terbentuknya Republik Indonesia. Kekuatan-kekuatan besar saling bersaing membentuk model dasar republik ini.


Sudah barang tentu Amir Sjarifuddin terkejut mendengar ucapan terakhir Dick de Hoogs itu. Mendengarnya, Amir tak menyangka bahwa kalangan raja, bangsawan dan penguasa wilayah, begitu bodoh dan mudah diperdayai kesesatan Mason-Zion.

“Mason sedang membangun sebuah konstalasi yang mana tidak ada blok yang dapat memisahkan negara baru itu untuk sekadar berpihak. Persemakmuran itu harus berada di poros tengah semua indentitas ideologis dan agama.”

“Kalian menafikkan keteraturan yang dibuat tuhan?” Mook tiba-tiba tertawa sinis. “Aneh mendengar ucapan itu keluar dari mulut Anda, Tuan Sjafruddin.”

“Tidak ada garis seperti ini dalam konstalasi persemakmuran Uni-Holandia. Sebagaimana kau bisa paham-bahwa kami justru mendorong Negera Komunis Hindia ke tangan Anda, sebagaimana kami mendorong Suriname, Curacao, dan Aruba ke arah kapitalistik. Sehingga kami tak perlu repot dengan membiarkan Belanda tetap pada garis pertahanannya sendiri,”jelas Dick, lebih jauh.

“Politik Zion akan menggerakan semuanya dengan tetap mengacu  pada garis masing-masing. Inilah keteraturan Zion itu. Keteraturan tanpa blok yang memisahkannya. Negara komunis Hindia akan memperkuat nilai tawar persemakmuran dalam hubungannya dengan dunia internasional kelak.”

“Rencana yang berbahaya,” desis Amir. Dick de Hoog tersenyum puas.

“Kami harus melawan, Tuan. Sistem yang tercipta dari agama Muhammad nyaris mendorong kami ke jurang kehancuran, jika saja kami tak segera sadar untuk melawan. Sepanjang yang kami pelajari, sistem negara-bangsa yang dibentuk Muhammad itu adalah sistem terbaik yang pernah dikenal manusia. Namun sistem itu akan menghancurkan entitas kami, dan meninggalkan kami dalam lipatan sejarah manusia. Kami tak mau itu terjadi. Kami tak mau sistem baru itu mengatur bagaimana kaum kami harus berjalan.”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tahta Mahameru

Mahameru. Puncak Abadi Para Dewa. Ikhsan memandang Mahameru lagi. Apakah itu artinya?¦ Allah tidak punya tempat di sana??Faras, si gadis kutu buku asal desa Ranu Pane hanya bisa mengangkat tinggi kedua alisnya. Seperti aku, kamu juga tidak tahu banyak tentang tahta Mahameru?? tanyanya lagi. Tahta Mahameru? Itulah salah satu dari tiga pertanyaan tak terjawab dari Ikhsan kepada Faras. Masing-masing diajukan dalam tiga pertemuan singkat mereka sebelum mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Pendaki gunung berwatak keras dari keluarga yang penuh kebencian ini menjadikan Mahameru sebagai peredam sesaat jiwanya yang penuh dendam. Namun kegetiran semakin memuncak sampai akhirnya ia benar-benar membalas dendam dan hidup terasing. 

Faras, sang teman baik yang merasa bersalah dalam terseretnya Ikhsan ke ujung tanduk menelusur jejak sang pendaki hingga melintasi pulau. Ia ditakdirkan bertemu dan seperjalanan panjang dengan Mareta, seseorang yang ternyata terkait dalam dendam keluarga Ikhsan.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Ikhsan setelah menghilang tiga tahun? Lalu masih pentingkah Faras mengungkap semua jawab atas pertanyaan esensial Ikhsan yang dulu, melalui keajaiban demi keajaiban dalam pendakian Mahameru yang mungkin tak terlihat selama ini?Tahta Mahameru, sebuah novel yang tak hanya menyajikan rangkaian peristiwa luar biasa tentang kehidupan anak manusia, tapi juga menyuguhkan petualangan tokoh-tokohnya dari satu daerah ke daerah lain, menghadirkan sisi religi yang menggugah, dan ikut mengupas latar adat suku Bugis yang kental dan terkenal akan kapal pinisi mereka. Serta tentu saja, pendakian Gunung Mahameru yang berbeda dari biasanya.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suwung

Sebuah peternakan babi berdiri tegak di tengah masyarakat yang kurang mengerti. Pro dan kontra terjadi,  membawa kita mengenali sosok Irwan Rahardian lebih dekat. Tapi sosok itu tidak sendiri, ada sosok-sosok lain yang menemaninya, membentuk semacam benang merah yang tak kasat mata.


Ada Indra Pratama, seorang penulis yang selalu dihantuimasa lalu dan memiliki kepribadian kedia bernama Sulisati.Ada pula Airin Rahimi, psikolog yang sangat mengerti apa yang terjadi pada Indra dan sekaligus mengerti solusinya. Lalu Afrina Zakiah, gadis pemurung yang sangat akrab dengan coretan-coretan di buku ilustrasinya, dia memiliki masa lalu dengan Indra yang menuntut untuk segera diselesaikan.

Masing-masing dari mereka tanpa sadar memiliki keterkaitan, mungkin diciptakan oleh masa lalu, mungkin juga bukan. Tapi mereka semua memerlukan jawaban yang pasti.

Namun sebuah jawaban kadang datang dengan cara yang sangat misterius dan tidak dimengerti. Kadang datang tak terpahami dan hanya bisa dilalui, kadang datang berupa kehidupan, atau juga kadang kematian. Kadang berupa perjumpaan, kadang sebuah perpisahan. Kadang berupa tikaman tajam, kadang berupa senandung lembut.

Novel ini, bercerita tentang para jiwa yang mencari sebuah jawaban, lalu mereka menemukan jawaban itu dalam sebuah perjalanan yang mereka tempuh dan [enuh misteri. Tentu, karena hidup adalah misteri itu sendiri...

,

Produk Detail
isbn
-
penulis
republika
penerbit
REPUBLIKA
terbit
-
halaman
-
bahasa
indonesia
sampul
soft
dimensi
-
berat
2000 gr
 


Discount 50%
Rp . 212,500
Harga Rp. 106,250
Out of Stock